PENDAHULUAN
Persiapan bibit untuk tanaman yang
akan ditanman dapat dilakukan dengan pembibitan. Pembibitan merupakan salah
satu cara menumbuhkan individu baru. Pembibitan dilakukan biasanya untuk
menyiapkan bibit sebelum dipindahkan ke lapangan. Dalam melakukan pembibitan
perlu diperhatikan hal seperti pemilihan lokasi yang ketersediaan air dan
unsure hara yang cukup,kesuburan tanah,tempat pembibitan,waktu
pembibitan,perawatan bibit,sampai kepada pemindahan bibit. Itu semua perlu
diperhatikan karna akan mempengaruhi kualitas dari bibit yang dibibitkan tadi.
Serta perlu perawatan saat pembibitan,hal ini dilakukan untuk menghindari
kerusakan maupun gangguan dari hama maupun penyakit
A.
PEMBIBITAN RAMBUTAN
Rambutan atau Nephelium sp. Merupakan tanaman
buah holtikultura berupa pohon yang berasal dari family Sapindacaeae yang
berasal dari Indonesia. Dalam pembibitan tanaman rambutan perlu memperhatikan
factor-faktor berikut seperti:
a)
Persyaratan
Benih
Benih
yang diambil biasanya dipilih dari benih-benih yang disukai oleh masyarakat konsumen
antara lain: Rambutan Rapiah, Rambutan Aceh, Lebak bulus, Rambutan Cimacan,
Rambutan, Rambutan Sinyonya.
b)
Penyiapan Benih
Persiapan
benih biji yang dipergunakan sebagai pohon pangkal setelah buah dikupas dan
diambil bijinya dengan jalan fermentasi biasa (ditahan selama 1-2 hari) sesudah
itu di angin-anginkan selama 24 jam (sehari semalam) dan biji siap disemaikan.
c)
Teknik Penyemaian Benih
Teknik
penyemaian benih dipilih lahan yang gembur dan mudah mendapat pengairan serta
mudah dikeringkan,buatkan bedang-bedeng yang berukuran 1-1,5 m lebar dan tinggi
sekitar 30 cm,panjang bedengan sekitar 10 m, dengan keadaan arah membujur dari
Utara ke Selatan, dengan jarak antara bedeng 30 cm.kemudian biji rambutan ditanam pada bedeng-bedeng yang
berjarak 10 X 10 cm setelah berkecambah dan berumur 1-1,5 bulan dan sudah
tumbuh daun sekitar 2-3 helai maka bibit dapat dipindahkan dari bedeng
persemaian ke bedeng penanaman.
d)
Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
Setelah
bibit berkecambang dan telah berumur 1-1,5 bulan disiram pagi sore, setelah
kecambah dipindah ke bedeng pembibitan penyiraman cukup 1 kali tiap pagi hari
sampai menjelang mata hari terbit, dengan menggunakan "gembor" Kemudian
dilakukan pendangiran bedengan supaya tetap gembur dan dilakukan setiap 2-3 minggu
sekali, rumput yang tumbuh disekitarnya supaya disiangi, hindarkan dari
serangan hama dan penyakit
e)
Pemindahan Bibit
Cara
pemindahan bibit dengan mencungkil/membuka plastik yang melekat pada media Penanaman
kemudian bibit ditanam pada bedeng pembibitan dengan jarak 30-40 cm dan
ditutupi dengan atap yang dipasang miring lebih tinggi di Timur dengan harapan
dapat lebih banyak kena sinar mata hari pagi.
B.
PEMBIBITAN DUKU
Duku
(Lansium domesticum Corr) merupakan tanaman buah berupa pohon yang
berasal dari Indonesia. Sekarang populasi duku sudah tersebar secara luas di
seluruh pelosok nusantara. Selain itu ada yang menyebutkan duku berasal dari
Asia Tenggara bagian Barat, Semenanjung Thailand di sebelah Barat sampai
Kalimantan di sebelah Timur. Jenis ini masih dijumpai tumbuh liar/meliar
kembali di wilayah tersebut dan merupakan salah satu buah-buahan budidaya utama
.
1)
Persyaratan
Benih
a)
Bebas dari hama dan penyakit
b)
Bibit mempunyai sifat genjah
c)
Tingkat keseragaman penampakan fisik seperti warna, bentuk dan ukuran lebih
seragam
dari bibit lain yang sejenis
d)
Bibit cepat tumbuh
2)
Penyiapan Benih
Perbanyakan
dan penanaman duku umumnya masih diperbanyak dengan benih atau dari semai yang
tumbuh spontan di bawah pohonnya, kemudian dipelihara dalam pot sampai tinggi
hampir 1 meter dan sudah dapat ditanam di lapangan. Sehingga tingkat
keberhasilan perbanyakan generatif cukup tinggi walaupun memerlukan waktu yang
relatif lama. Daya perkecambahan dan daya tahan semai akan lebih baik sejalan
dengan ukuran benih dan hanya benih-benih yang berukuran besar yang hendaknya
digunakan dalam usaha pembibitan.
Pertumbuhan awal semai itu lambat
sekali, dengan pemilihan yang intensif diperlukan waktu 10–18 bulan agar batang
duku berdiameter sebesar pensil, yaitu ukuran yang cocok untuk usaha
penyambungan atau penanaman di lapangan, tetapi di kebanyakan pembibitan untuk
sampai pada ukuran tersebut diperlukan waktu 2 kali lebih lama. Perbanyakan
dengan stek dimungkinkan dengan menggunakan kayu yang masih hijau, namun
memerlukan perawatan yang teliti. Terkadang cabang yang besar dicangkok, sebab
pohon ynag diperbanyak dengan cangkokan ini dapat berbuah setelah beberapa
tahun saja, tetapi kematian setelahcangkokan dipisahkan dari pohon induknya
cenderung tinggi presentasenya.
3)
Teknik Penyemaian Benih
Waktu
penyemaian benih sebaiknya pada musim hujan agar diperoleh keadaan yang
selalu lembab dan basah. Cara pembuatan media penyemaian dapat berupa tanah
yang subur/campuran tanah dan pupuk organik (pupuk kandang atau kompos) dengan
perbandingan sama (1:1). Jika perlu media tanam dapat ditambahkan sedikit
pasir. Tempat persemaian bisa berupa bedengan, keranjang/kantong plastik atau
polybag. Tetapi sebaiknya tempat untuk persemaian menggunakan kantong plastik
agar mempermudah dalam proses pemindahan bibit.
4)
Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
Bibit
duku tidak memerlukan perawatan khusus kecuali pemberian air yang cukup terutama
pada musim kemarau. Selama 2 atau 3 minggu sejak bibit duku ditanam perlu
dilakukan penyiraman dua kali setiap hari yaitu pagi dan sore hari, terutama pada
saat tidak turun hujan. Selanjutnya cukup disiram satu kali setiap hari. Kalau pertumbuhannya
sudah benar-benar kokoh, penyiraman cukup dilakukan penyiraman secukupnya jika
media penyemaian kering. Penyulaman pada bibit diperlukan jika ada bibit yang
mati maupun bibit yang pertumbuhannya terhambat. Rumput liar yang mengganggu
pertumbuhan bibit juga hrus dihilangkan. Untuk meningkatkan pertumbuhan bibit
perlu diberi pupuk baik pupuk organik berupa pupuk kandang dan kompos maupun
pupuk anorganik berupa pupuk TSP dan ZK sesuai dengan dosis dan kadar yang
dianjurkan.
5)
Pemindahan Bibit
Umur bibit yang siap tanam adalah sekitar
2-3 bulan dengan tinggi bibit 30-40 cm. Kegiatan pemindahan bibit harus
memperhatikan kondisi fisik bibit waktu yang tepat
C.PEMBIBITAN
DURIAN
Durian merupakan tanaman buah berupa pohon. Sebutan durian diduga berasal dari
istilah Melayu yaitu dari kata duri yang diberi akhiran -an sehingga menjadi
durian. Kata ini terutama dipergunakan untuk menyebut buah yang kulitnya
berduri tajam. Tanaman durian berasal dari hutan Malaysia, Sumatra, dan
Kalimantan yang berupa tanaman liar. Penyebaran durian ke arah Barat adalah ke
Thailand, Birma, India dan Pakistan. Buah durian sudah dikenal di Asia Tenggara
sejak abad 7 M. Nama lain durian adalah duren (Jawa, Gayo), duriang (Manado),
dulian (Toraja), rulen (Seram Timur).
1)
Persyaratan Benih
Biji
untuk bibit dipilih dari biji yang memenuhi persyaratan:
a)
Asli dari induknya.
b)
Segar dan sudah tua.
c)
Tidak kisut.
d)
Tidak terserang hama dan penyakit.
2)
Penyiapan Benih dan Bibit
Pernanyakatan
tanaman durian dapat dilakukan melalui cara generatif (dengan biji) atau
vegetatif (okulasi, penyusuan atau cxangkokan).
a) Pengadaan benih
dengan cara generatif
Memilih
biji-biji yang tulen/murni dilakukan dengan mencuci biji-biji dahulu agar
daging buah yang menempel terlepas. Biji yang dipilih dikeringkan pada tempat terbuka,
tidak terkena sinar matahari langsung. Penyimpanan diusahakan agar tidak
berkecambah/rusak dan merosot daya tumbuhnya. Proses pemasakan biji dilakukan
dengan baik (dengan cara diistirahatkan beberapa saat), dalam kuru waktu 2-3
minggu sesudah diambil dari buahnya. Setelah itu biji ditanam.
b) Pengadaan bibit
dengan cara okulasi
Persyaratan
biji durian yang akan diokulasi berasal dari biji yang sehat dan tua, dari tanaman
induk yang sehat dan subur, sistem perakaran bagus dan produktif. Biji yang
ditumbuhkan, dipilih yang pertumbuhannya sempurna. Setelah umur 8-10 bulan,
dapat diokulasi, dengan cara:
1.
Kulit batang bawah disayat, tepat di atas matanya (} 1 cm). Dipilih mata tunas
yang berjarak 20 cm dari permukaan tanah.
2.
Sayatan dibuat melintang, kulit dikupas ke bawah sepanjang 2-3 cm sehingga
mirip lidah.
3.
Kulit yang mirip lidah dipotong menjadi 2/3-nya.
4.
Sisipan “mata” yang diambil dari pohon induk untuk batang atas (disayat dibentuk
perisai) diantara kulit. Setelah selesai dilakukan okulasi, 2 minggu kemudian
di periksa apakah perisai mata tunas berwarna hijau atau tidak. Bila berwarna
hijau, berarti okulasi berhasil, jika coklat, berarti okulasi gagal.
c) Penyusuan
1.
Model tusuk/susuk
-
Tanaman calon batang atas dibelah setengah bagian menuju kearahpucuk. Panjang
belahan antara 1-1,5 cm diukur dari pucuk. Tanamancalon batang bawah sebaiknya
memiliki diameter sama dengan batang atasnya. Tajuk calon batang bawah dipotong
dan dibuang, kemudian disayat sampai runcing. Bagian yang runcing disisipkan kebelahan
calon batang atas yang telah dipersiapkan. Supaya calon batang bawah tidak mudah
lepas, sambungannya harus diikat kuat-kuat dengan tali rafia.
-
Selama masa penyusuan batang yang disatukan tidak boleh bergeser.
Sehingga,
tanaman batang bawah harus disangga atau diikat pada tanaman induk (batang
tanaman yang besar) supaya tidak goyah setelah dilakukan penyambungan. Susuan
tersebut harus disiram agar tetap hidup. Biasanya, setelah 3-6 bulan tanaman
tersebut bisa dipisahkan dari tanaman induknya, tergantung dari usia batang
tanaman yang disusukan. Tanaman muda yang kayunya belum keras sudah bisa
dipisahkan setelah 3 bulan. Penyambungan model tusuk atau susuk ini dapat lebih
berhasil kalau diterapkan pada batang tanaman yang masih muda atau belum berkayu
keras.
2.
Model sayatan
-
Pilih calon batang bawah (bibit) dan calon batang atas dari pohon induk yang
sudah berbuah dan besarnya sama.
-
Kedua batang tersebut disayat sedikit sampai bagian kayunya. Sayatan pada kedua
batang tersebut diupayakan agar bentuk dan besarnya sama.
-
Setelah kedua batang tersebut disayat, kemudian kedua batang itu ditempel tepat
pada sayatannya dan diikat sehingga keduanya akan tumbuh bersama-sama.
-
Setelah 2-3 minggu, sambungan tadi dapat dilihat hasilnya kalau batang atas dan
batang bawah ternyata bisa tumbuh bersama-sama berarti penyusuan tersebut
berhasil.
-
Kalau sambungan berhasil, pucuk batang bawah dipotong/dibuang, pucuk batang
atas dibiarkan tumbuh subur. Kalau pertumbuhan pucuk batang atas sudah
sempurna, pangkal batang atas juga dipotong.
-
Maka akan terjadi bibit durian yang batang bawahnya adalah tanaman biji, sedangkan
batang atas dari ranting/cabang pohon durian dewasa.
d) Cangkokan
Batang
durian yang dicangkok harus dipilih dari cabang tanaman yang sehat,subur, cukup
usia, pernah berbuah, memiliki susunan percabangan yang rimbun, besar cabang
tidak lebih besar daripada ibu jari (diameter=2–2,5 cm), kulit masih hijau
kecoklatan. Waktu mencangkok adalah awal musim hujan sehingga terhindar dari
kekeringan, atau pada musim kering, tetapi harus disiram secara rutin (2 kali
sehari), pagi dan sore hari. Adapun tata cara mencangkok adalah sebagai
berikut:
1. Pilih cabang durian sebesar ibu jari
dan yang warna kulitnya masih hijau kecoklatan.
2. Sayap kulit cabang tersebut
mengelilingi cabang sehingga kulitnya terlepas.
3. Bersihkan lendir dengan cara dikerok
kemudian biarkan kering angin sampai dua hari.
4. Bagian bekas sayatan dibungkus dengan
media cangkok (tanah, serabut gambut, mos). Jika menggunakan tanah tambahkan
pupuk kandang/kompos perbandingan 1:1. Media cangkok dibungkus dengan
plastik/sabut kelapa/bahan lain, kedua ujungnya diikat agar media tidak jatuh.
5. Sekitar 2-5 bulan, akar cangkokan akan
keluar menembus pembungkus cangkokan. Jika akar sudah cukup banyak, cangkokan
bisa dipotong dan ditanam di keranjang persemaian berisi media tanah yang
subur.
3)
Teknik
Penyemaian dan Pemeliharaan
Bibit
duriansebaiknya tidak ditanam langsung di lapangan, tetapi disemaikan terlebih
dahulu ditempat persemaian. Biji durian yang sudah dibersihkan dari daging buah
dikering-anginkan sampai kering tidak ada air yang menempel. Biji dikecambahkan
dahulu sebelum ditanam di persemaian atau langsung ditanam di polibag. Caranya
biji dideder di plastik/anyaman bambu/kotak, dengan media tanah dan pasir
perbandingan 1:1 yang diaduk merata. Ketebalan lapisan tanah
sekitar
2 kali besar biji (6-8 cm), kemudian media tanam tadi disiram tetapi (tidak boleh
terlalu basah), suhu media diupayakan cukup lembab (20-23 derajat C). Biji ditanam
dengan posisi miring tertelungkup (bagian calon akar tunggang menempel ke
tanah), dan sebagian masih kelihatan di atas permukaan tanah (3/4 bagian masih
harus kelihatan). Jarak antara biji satu dengan lainnya adalah 2 cm membujur
dan 4-5 cm melintang. Setelah biji dibenamkan, kemudian disemprot dengan
larutan fungisida, kemudian kotak sebelah atas ditutup plastik supaya kelembabannya
stabil. Setelah 2-3 minggu biji akan mengeluarkan akar dengan tudung akar
langsung masuk ke dalam media yang panjangnya } 3-5 cm. Saat itu tutup plastik
sudah bisa dibuka. Selanjutnya, biji-biji yang sudah besar siap dibesarkan di
persemaian pembesar atau polibag.
4)
Pemindahan
Bibit Bibit yang akan ditanam
Pemindahan
Bibit Bibit yang akan ditanam di lapangan sebaiknya sudah tumbuh setinggi
75-150 cm atau berumur 7 - 9 bulan setelah diokulasi, kondisinya sehat dan
pertumbuhannya bagus. Hal ini tercermin dari pertumbuhan batang yang kokoh,
perakarannya banyak dan kuat, juga adanya helaian daun dekat pucuk tanaman yang
telah menebal dan warnanya hijau tua.
D.
ANDALAS
Pohon Andalas tergolong jenis kayu yang
besar, umumnya dikenal oleh masyarakat Minang sebagai kayu yang bagus.
Pemanfaatan kayu Andalas dalam pembangunan rumah adat di Daerah Minangkabau memang sudah menjadi tradisi
sejak lama. Kayu tersebut dipakai dalam pembuatan rumah, baik sebagai
tiang-tiang utama, balok-balok untuk landasan lantai rumah, papan lantai dan
dinding rumah. Sering pula kayunya dipakai sebagai bahan perabot rumah tangga.
Buah pohon ini dapat dimakan.
Di Indonesia jenis ini hanya ditemukan di
Sumatera dan Jawa Barat. Di Jawa Barat, sudah sulit ditemukan jenis ini
meskipun di hutan-hutan, sedangkan di Sumatera masih dapat ditemukan di daerah
Padang bagian Selatan. Untuk menemukan jenis ini di hutan memerlukan perjalanan
berhari-hari menuju lokasinya. Hal ini menunjukkan bahwa jenis ini memang sudah
tergolong dalam pohon/tumbuhan langka. Mengingat manfaatnya yang cukup besar
dalam tradisi adat Minang, maka kayu jenis ini banyak dicari sehingga harganya
cukup mahal. Karena itulah pemilihan jenis ini menjadi mascot tumbuhan Propinsi
Sumatera Barat cukup tepat. Dengan demikian tradisi adat Minang dapat terus
dilaksanakan dengan merangsang masyarakat memperbanyak, memelihara,
membudidayakan dan memanfaatkannya secara lestari.
Pertelaan Pohon Andalas tergolong kayu
berkualitas tinggi. Pohonnya bisa mencapai tinggi 40 m dengan garis tengah 1 m.
Batang bebas cabangnya bisA mencapai lebih dari 15 m sehingga untuk bahan balok
cukup baik. Bentuk daun mirip daun murbai yang memang kerabat dekatnya, seperti
jantung namun permukaan daunnya sedikit kasar karena ada bulubulunya. Tangkai
daun maupun cabangnya juga berbulu, bulu-bulu tersebut bisa menyebabkan
gatal-gatal pada kulit yang peka. Buahnya menggerombol berwarna merah bila
masak, berair dan terasa asam-manis mirip buah murbai.
Ekologi, Pohon
Andalas tergolong jenis yang tumbuh didataran tinggi. Tumbuhnya di hutan-hutan
campuran yang cukup hujan dataran tinggi pada 900 – 1600 m dpl. Menyukai
tanah-tanah yang subur, abu vulkanis,
cukup humus dan gembur.
Musim Berbunga, Jenis
ini tergolong cukup rajin menghasilkan bunga dan buah. Dari akhir buah yang
masak sampai muncul perbungaannya membutuhkan waktu sekitar 6 bulan. Jadi jenis
ini secara individu dalam satu tahun dapat berbuah 2 kali. Namun buah yang terbanyak biasanya didapatkan pada bulan
Juli hingga Desember
DAFTAR PUSTAKA
>